Halokaltim.com – Rambutnya yang sudah putih semua, sama sekali tidak membuat Awang Faroek Ishak tumpul dalam berpikir soal pembangunan. Sambil duduk di kursi rodanya, bupati Kutai Timur (Kutim) pertama itu kembali mengungkit dasar-dasar berdirinya kabupaten pemekaran pada 1999 silam itu.
Awang Faroek yang ditemui jurnalis halokaltim.com, Minggu (6/9/20), sedang berjalan keluar dari sekretariat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kutim. Lelaki yang kini menjabat anggota DPR RI dari Partai Nasdem daerah pemilihan Kaltim itu baru saja mengantarkan putranya, Awang Ferdian Hidayat.
Ferdian baru saja mendaftarkan diri sebagai calon bupati Kutim berpasangan dengan Uce Prasetyo, anggota DPRD Kutim. Dengan nama AFI-UCE, mereka diusung Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang memiliki koleksi sembilan kursi parlemen. Ferdian mendeklrasikan nama AFI, persis dengan nama yang digunakan Faroek pada pilkada beberapa tahun silam.
Sambil berjalan menuju area parkir mobil, Faroek yang ditemani ajudannya masih mau melayani wawancara awak media. Wajahnya yang ditutupi masker anti covid-19, tak menghalangi suaranya.
“Kutai Timur dulu sudah meletakkan dasar yang benar pada GERDABANGAGRI. Maka, dengan (GERDABANGAGRI) jilid II ini, tidak lagi kita ekonomi hulu, tapi lebih ke hilirnya. Sehingga nilai lebih value added bisa dinikmati oleh rakyatnya,” ungkap Faroek.
Diketahui, GERDABANGAGRI adalah suatu dasar pembangunan yang dicetuskan oleh era bupati Awang Faroek pada saat awal Kutim berdiri. GERDABANGAGRI secara umum mengartikan pengembangan pertanian dalam arti luas, yang menitik-beratkan pada kegiatan usaha subsektor perkebunan, terutama kelapa sawit, menyesuaikan potensi daerah.
Dia kemudian mengungkit kembali nama proyek Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy yang berada di wilayah Maloy, Kecamatan Karangan, Kutim. Proyek KEK Maloy dulunya dicetuskan oleh Faroek kala menjadi bupati pada 2002 silam. Dia terus menggenjot proyek nasional itu setelah dirinya menjadi gubernur Kaltim.
“Oleh karena itu sudah ada KEK Maloy di Kutim, itu yang harus dikembangkan dan dilanjutkan. Di samping itu, pembangunan sumber daya manusia yang meningkatkan kesejahteraan rakyat untuk keadilan sosial bagi rakyat, dan meningkatkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa,” paparnya.
ANAK MANDIRI
Awang Faroek Ishak mengatakan, memberi dukungan majunya Awang Ferdian, tanpa memberi intervensi. Sebab, putranya tersebut dikatakannya sudah mandiri, ingin maju karena keinginan hati.
“Dia dari dulu sudah mandiri, maju di DPD RI juga mandiri. Saya posisinya hanya mendukung saja sebagai orang tua. Ketika dia ingin maju menjadi calon bupati, saya sangat mendukung,” ungkapnya.
Dengan majunya ke Pilkada Kutim, Ferdian diharuskan mengundurkan diri dari jabatan sebagai anggota DPD RI. Begitu pula pasangannya, Uce, juga diwajibkan undur diri dari kursi DPRD Kutim.
KLAIM FAROEK
Faroek pun mengklaim, langkah politik Ferdian tersebut adalah untuk memperbaiki kembali Kutai Timur kepada dasar terbangunnya yang kini sudah bergeser.
“Karena dia terpanggil untuk memperbaiki Kutai Timur, yang sudah melenceng dari dasar terbentuknya (GERDABANGAGRI), dan saya mendukungnya,” ungkap Faroek. (ash)