Opini  

Rekomendasi dan Koalisi Menuju Bukit Pelangi

Riuh rendah dukungan kepada bakal calon bupati Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai terasa. Sejumlah figur dari partai politik bahkan sudah menabuh genderang pertarungan menuju Bukit Pelangi, melalui Pilkada Kutim.

OPINI OLEH : Ardhan Ahmad (Jurnalis Kutim)

Adalah Mahyunadi, Ardiansyah Sulaiman dan Abdal Nanang. Ketiga tokoh politik di Kutim ini terang-terangan siap menjadi calon bupati. Mahyudin dengan perahu Partai Golkar, PAN, PKB, kemudian Ardiansyah Sulaiman dengan dukungan PKS, Demokrat dan Berkarya, dan terakhir Abdal Nanang yang konsisten memilih jalur independen.

Mahyunadi menjadi yang pertama mendapatkan legitimasi dari dukungan Golkar, PAN dan PKB, melalui rekomendasi yang diserahkan pada pertengahan Juli 2020. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ketiga partai tersebut telah mendaulat Mahyunadi sebagai calon bupati yang akan berpasangan dengan Kinsu sebagai wakil bupati.

Tetapi tidak hanya Mahyunadi yang sudah memastikan tiket Pilkada. Ardiansyah Sulaiman yang menggandeng Kasmidi Bulang sebagai wakil ikut menyusul, mantan Bupati dan Plt Bupati Kutim itu mengantongi rekomendasi dari Partai PKS, Demokrat dan Berkarya untuk maju sebagai calon bupati Kutim.

Meski telah mendapatkan rekomendasi dan memenuhi syarat dari delapan kursi yang telah ditetapkan, Mahyunadi dan Ardiansyah Sulaiman belum secara resmi mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kutim sebagai calon bupati Kutim. Kemungkinan keduanya masih menunggu dukungan dari beberapa partai lain.

Yang selanjutnya, yaitu Abdal Nanang, mantan Ketua DPRD Kutim priode pertama itu jauh hari sudah mengumpulkan dukungan untuk maju jalur perseorangan. Abdal yang berpasangan dengan Rusmiati sejak bulan Februari lalu telah menyerahkan berkas dukungan warga sebanyak 25.635 dari 18 Kecamatan.

Persyaratan Abdal Nanang sebagai calon bupati dari jalur perseorangan tidak berjalan mulus. Hasil verifikasi faktual (verfak) di KPU yang dilakukan pada pekan lalu, hanya 12.701 dukungan yang dianggap memenuhi syarat. Setalah enam hari masa perbaikan yang diberikan KPU, tim pemenangan Abdal Nanang kembali menyerahkan sebanyak 23.175 berkas dukungan yang kembali akan menjalani verfak pada Agustus ini.

Selain ketiganya, masih ada tokoh lain yang santer untuk ikut bertarung menjadi KT 1 atau KT 2 seperti Awang Ferdian Hidayat, Ismail, Imam Hidayat, dan Yusuf T Silambi. Mereka masih berpeluang untuk mendapatkan tiket dari partai yang belum mengeluarkan rekomendasi untuk kandidat calon bupati Kutim.

Dari 10 parpol yang memiliki perolehan kursi di DPRD Kutim hanya tersisa 4 yang belum mengeluarkan rekomendasi masing-masing, yaitu PPP, Nasdem, PDI Perjuangan, serta Gerindra. Berdasarkan  pemilihan legislatif 2019, hanya perahu PPP yang bisa berlayar tanpa koalisi. PPP meraup sembilan kursi dari total 40 kursi DPRD Kutim.

Sembilan parpol lainnya yang mendapatkan kursi di bawah 20 persen, suka tidak suka harus berkoalisi untuk membangun perahu bersama menuju pilkada di kabupaten yang dikenal dengan tambang batu bara itu.

Terlepas dari lobi koalisi partai dan figur yang akan bertarung, saya berpendapat beberapa program yang ditawarkan sejumlah kandidat masih bersifat populis, tidak menyentuh akar persoalan, sehingga sulit menghadirkan solusi yang benar-benar menjawab kebutuhan rakyat.

Konsep matang solusi tentang persoalan yang ada di Kutim belum tergambar jelas. Seperti pengelolaan sumber daya alam (SDA), korupsi, transparansi, konflik lahan, serta defisit anggaran.

Belum lagi para kandidat ini harus mengembalikan kepercayaan masyarakat  tentang kepala daerah yang bersih pasca tertangkapnya bupati sebelumnya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sejatinya, pesta demokrasi di Kutim ini mesti menjadi cikal bakal munculnya perbaikan di Kutim ke depannya.

Dana pilkada yang begitu besar jangan sampai mubazir dengan kurangnya kepedulian masyarakat dalam mengikuti pesta demokrasi di Kutim. Tidak hanya saya, mungkin semua masyarakat Kutim di luar sana mengharapkan pilkada ini berjalan baik dan damai, hingga terpilihnya seorang pemimpin yang benar-benar membawa daerah ini menjadi lebih maju ke depannya. (*)

Penulis : Ardhan Achmad (Jurnalis Kutim)